Sabtu, 04 Mei 2013

12 JUTA WARGA MESIR PENGHAFAL AL QUR'AN

Kairo, Pelita

Sebanyak 12,3 juta atau sekitar 18,5 persen dari total 67 juta jiwa penduduk Mesir tercatat sebagai penghafal seluruh kitab suci Al-Qur'an yang berjumlah 30 juz.

Data Kementerian Waqaf (semacam kementerian agama) Mesir menyebutkan, para penghafal Al-Quran itu tergolong dalam usia kanak-kanak dan remaja, dewasa, serta golongan orang lanjut usia, demikian dilaporkan koresponden ANTARA di Kairo, Rabu.

Disebutkan, penghafal Al-Quran golongan kanak-kanak dan remaja berusia antara 10-25 tahun tercatat sebanyak 2,4 juta jiwa, golongan dewasa berusia antara 26-55 tahun sebanyak 6,2 juta, dan usia di atas 56 tahun sekitar 3,7 juta penghafal Al-Quran. Dari jumlah tersebut, wanita penghafal Al-Qur'an sekitar 3,8 juta orang.

Menteri Waqaf Mesir Prof Dr Mahmoud Hamdi Zaqzouk, dalam wawancara dengan jaringan televisi Mesir baru-baru ini menyebutkan, jutaan orang Mesir penghafal Al-Quran itu merupakan wujud dari dukungan sistem pendidikan setempat.

Sistem pendidikan Mesir, baik sekolah negeri maupun Al-Azhar, dan pendidikan swasta lainnya, memang mewajibkan pelajar Muslim untuk menghafal Al-Quran. Selain itu, pengajian di mesjid-mesjid bagi jamaah, khususnya anak-anak sekolah juga berperan penting untuk mendorong warga menghafal Al-Quran, kata Menteri Zakzouk, yang juga mantan dekan fakultas teologi Universitas Al-Azhar tersebut.

Sistem pendidikan di Mesir, sejak taman kanak-kanak sudah diwajibkan menghafal Al-Quran. Di Universitas Al-Azhar, misalnya, bagi mahasiswa Mesir program S-1 diwajibkan menghafal 15 juz (setengah) Al-Quran, program S-2 diwajibkan menghafal seluruh Al-Quran. Adapun program S-3, tinggal diuji hafalan sebelumnya.

Kewajiban hafal Al-Quran ini tidak berlaku bagi mahasiswa asing non-Arab, di mana program S-1 diringankan, yaitu hanya diwajibkan hafal delapan juz Al-Quran, dan program S-2 sebanyak 15 juz Al-Quran, sementara program S-3 baru diwajibkan hafal seluruh Al-Quran.

Sementara itu, Pemerintah Mesir dilaporkan setiap tahun mengalokasikan dana khusus sebesar 25 juta dolar AS (1,2 miliar pound Mesir) untuk penghargaan bagi penghafal Al-Quran. Penghargaan itu diberikan setiap peringatan hari-hari Besar Islam bagi pemenang hifzul (penghafal) Al-Quran, berupa uang tunai maupun dalam bentuk beasiswa dan tunjangan hidup.

Sudah menjadi tradisi di negeri Seribu Menara itu, perlombaan hafal Al-Quran di setiap hari-hari besar Islam dilakukan secara serentak dari tingkat pusat hingga ke daerah-daerah.

Pada peringatan Lailatul Qadar pekan depan di Kairo yang diadakan Kementerian Waqaf, Presiden Mesir Hosni Mubarak dijadwalkan akan menyerahkan penghargaan kepada para pemenang musabaqah hifzil Quran (MHQ) tingkat nasional dan internasional.

Di Mesir, perlombaan hafal Al-Quran atau, musabaqah hifzil Quran memang lebih menonjol, ketimbang musabaqah tilawatil Quran (MTQ) yang mengutamakan bacaan, suara, dan lagu.

Selain Kementerian Waqaf, Al-Azhar -- yang memiliki sistem pendidikan dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi dan tersebar di seluruh provinsi setempat itu pun secara independen melaksanakan perlombaan hafal Al-Quran setiap hari-hari besar Islam.

Di sisi lain, para penghafal Al-Quran dalam situasi tertentu menempati posisi istimewa. Dalam dinas wajib militer, contohnya, para penghafal Al-Quran dapat diringankan beban tugas.

Bila normalnya, wajib militer itu berlangsung selama dua tahun, bagi para penghafal Al-Quran, hanya ikut (wajib militer) setahun saja, kata Rida Abdel Rahim, penghafal Al-Quran jebolan S-1 Universitas Al-Azhar yang baru saja menyelesaikan satu tahun wajib militer itu.

Hal tersebut berlaku pula dalam dinas kemiliteran dan kepolisian, yakni dalam situasi tertentu, para penghafal Al-Quran diberi keringanan dalam menjalankan tugas sebagai penghormatan atas pelaksanaan menghafal kitab suci itu. (ant/dik)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar